PENGALAMAN PRIBADI
BERMAIN FUTSAL YANG BATAL
Pagi itu di kelas terasa gaduh,
karena gurunya tidak mengajar. Kami hanya bercanda-canda saja dengan
teman-teman yang lain. Ku duduk dibangku paling belakang bersama Iltizam, Tomy,
dan Ilyas sambil gambar-gambar iseng-iseng saja untuk mengisi waktu. Terdengar
suara Zaenul yang sedang asyiknya bercanda dengan Pai dan Tantra, mereka
menyebut-nyebut namaku segala, dasar!
“Ech, pai! Kita main futsal yukz??
Sekedar refreshing saja, mau??”, Zaenul bicara sama Pai, tapi dia
menolehnya ke arahku. Dasar aneh tuw anak, pasti ada maunya, pikirku. “Iya, iya
boleh tuw kayaknya. Ku mau-mau saja”, Pai menjawab sambil menoleh ke
arahku juga.Pikiranku menjadi kacau, tingkah laku mereka aneh. Ku terdiam
sejenak, karena heran dengan sikap mereka.“Hey Baedi!”, terdengar suara yang
memanggilku, aku terkejut dan langsung terbangun dari lamunanku. “Ech…iya
kenapa Nul??”, Tanyaku dengan agak senyum. “Dari pada bengong terus, lebih baik kita main futsal
yukz?? Di Jaka Mandala, Mau ikut gak ??”, ajak Zaenul.“Iya boleh, gak ada
salahnya juga.“Kita ajak Pai ya?? Hehe…biar ada temenku nantinya”, Zaenul
sikapnya aneh, Pai juga tampak senyum-senyum saja. Ku balas saja dengan
senyuman juga. “Iya Zaenul,
kapan??”
“Hm…besok saja, sepulang dari sekolah. Ech…ajak Biejee juga ya?? Biar kamu nggak
sendiri”, kata Zaenul. Dia langsung kembali ke bangkunya dan mulai bercanda
lagi dengan Pai. Ku hanya mengangguk saja, dan mulai beranjak keluar bersama Iltizam.
#Besokkkk
nyaaaa#
Cuaca siang ini tak begitu cerah, sepertinya akan turun hujan. Langit
sedang mendung, aku ragu untuk pergi. Terdengar suara dering dari HP-ku,
ternyata dari Zaenul. Dia bilang hari ini jadi berangkatnya, ku langsung
mengirim pesan kepada Ucup, karena ku akan main futsal dengan teman-teman. Aku
tak sengaja mengajaknya ikut, setelah ku dapat balasan, aku agak kaget.
Ternyata Ucup ingin ikut bersama kami, ku merasa senang karena dia ingin ikut.
Setelah jam menunjukkan pukul 2, aku langsung bergegas mengambil kunci motor.
Ech…sialnya! Baru sampai di depan rumah sudah turun hujan gerimis, aku langsung
saja tancap gas dan menuju tempat perkumpulan. Hujan semakin deras, ku menunggu
sambil berteduh di depan warung bakso. Tak lama, Zaenul datang bersama Pai yang
basah kuyup. Ech Baedi! Biejee mana?? Koq gak diajak??”, ucap Zaenul sambil
mengeringkan bajunya yang basah. “Hm…tadi hujan, makanya gak bisa jemput Biejee.
Jadi ku sendiri saja”. “Owh…palingan mau sama Ucup kan??” kata Zaenul seperti
menyindir. “Hah?? Kak Ucup?? Koq??” Pai tampak keheranan, dia seperti agak
takut saat Zaenul bilang kalau Ucup mau ikut. “Iya”, jawabku dengan agak malu.
Ku tidak mungkin menolak permintaan Ucup untuk ikut. “Owh…jadi kamu harus
jemput dulu donk??”, ucap Pai yang masih keheranan. “Ech…nie jas hujannya”,
kata Zaenul sambil menyodorkan jas hujan miliknya kepadaku. Zaenul memotong
pembicaraanku dengan Pai yang belum ku jawab. Ku menerima saja, kebetulan
aku tidak bawa jas hujan.
“Nul, kamu sama Baedi dulu ya?? Soalnya
ku mau mampir dulu sebentar di rumahnya Aldi, untuk ganti celana. Basah nie”,
pinta Zaenul. “Hah? Pai?? Ikut gandeng sama Baedi?? Ich…gak mau!” ucap Pai
dengan cemberut ke arahku, ku tahu dia tidak akan mau ikut gandeng sama aku,
takut kali dia! Dasar Pai aneh. Setelah lama berunding, akhirnya dia mau juga
ikut gandeng sama aku. Ku mulai turun dan memakai jas hujan. Syukurnya aku cuma
sama dia sampai di rumah Aldi saja, kalo Ucup melihat ini, bisa marah dia.
Semakin jauh, hujannya semakin deras. Ku kasihan juga sama Pai, dia sepertinya
menggigil kedinginan di belakangku. Tapi ku tak berani berkata apa-apa, ku
hanya menjaganya dengan kata hatiku. Tak lama, hujan berhenti. Tepat di depan
rumah Aldi, Pai turun dari motorku, kemudian dia sama Zaenul. Di sana kami
berpisah, karena ku harus menjemput Ucup terlebih dahulu. Mereka pergi duluan dan kami
berencana nanti ketemu di pasar Sukawati. Pai memberi lambaian tangan kepadaku,
aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang putih pucat itu.
Sepanjang perjalanan, aku merasa
tidak tenang. Dalam hatiku merasa takut, karena aku baru pertama kali menjemput
Ucup. Ku tidak hafal banyak jalan ke rumahnya. HP didalam saku celanaku
bergetar, panggilan, mungkin dari Ucup. Kudiamkan saja, aku lupa meng-sms dia
sebelum berangkat., seperti yang dia pesankan padaku. Hujan masih terus saja
berjatuhan membasahiku yang hanya berlindungkan jas hujan kecil milik Zaenul.
Pikiranku gelisah, ada pikiran terlintas untuk kembali saja dan langsung ke
jaka mandala tanpa menjemput Ucup. Tapi aku sudah berjanji, dan aku bukan
orang yang suka ingkar janji. Aku terus menyusuri jalan, terus memacu
motorku dengan kecepatan sedang.
Perasaanku masih tidak enak, saat menyusuri jalan itu, dan benar saja ,
kulihat ada banyak orang
berkerumun dan juga polisi! Ku kaget melihat ada polisi, jangan-jangan ada
tilang! Terlambat untuk berbalik, dan aku pun di stop oleh polisi. Ku meraba
perlengkapanku, STNK ku tak bawa dan SIM pun tak punya. Terpaksa ku hanya bisa
pasrah saja, ini mungkin nasibku. Kulihat HP-ku, panggilan dari Ucup, kukatakan
padanya aku kena tilang, dia langsung mengatakan dia akan menyusulku, sekitar
sepuluh menit Ucup pun datang, tampak seperti orang yang sehabis berlari,
keringat diwajahnya tak bisa disembunyikan. Ucup berdiri diseberang jalan,
mendekati polisi yang berdiri disana, mereka bercakap-cakap sebentar, kurasa
dia berusaha agar aku diberi keringanan, seperti yang kulakukan tadi, tetap
saja tidak berhasil. Saat itu aku panik dan terpaksa harus menelepon Bapakku. Ucup
duduk disebelahku, bersama menunggu orangtuaku datang, mungkin Ucup merasakan
hal seperti aku, takut. ”Maaf.”, kata Ucup saat aku menatapnya. ”Maaf karena
aku membiarkanmu kemari, seharusnya aku tidak mau ikut, aku kira kamu tidak
akan benar-benar kemari, aku bodoh sekali.”. Aku mencoba tersenyum, maaf tak
ada artinya lagi, sudah terlanjur.
Motorku dibawa ke Polda yang letaknya cukup jauh dari tempat penilangan
tadi. Aku dan Ucup berjalan ke Polda, tak banyak yang kami bicarakan, Ucup
hanya menunduk sambil membawa helmku. Kami sampai diPolda, tetapi orangtuaku
belum datang. Kami menunggu beberapa lama, dan akhirnya orangtuaku datang, Ucup
pun pergi menjauh sambil memberikan senyuman padaku. Dia buru-buru pergi agar
tidak menjadi pertanyaan orangtuaku nanti.
Aku merasa takut, karena aku tadi minta izin untuk ke pasar Sukawati
bersama teman-teman, tapi aku malah kena tilang di jalan yang tidak menuju ke
pasar Sukawati. Aku agak gemetar, tetapi
Bapak hanya tersenyum kepadaku. Seketika pikiranku tenang, rasa takut dan
gelisah itu mulai hilang terhapus dengan senyuman. Lama ku di Polda itu, hujan
tak juga kunjung reda. Kulihat HP ku, Ucup meng-sms, dia menanyakan keadaanku.
Sejujurnya, aku marah padanya, karena dia aku kemari, dan entah mengapa aku bersedia.
Marah pun tak ada gunanya, lagipula dia tadi sudah mau menyusulku ke tempatku
ditilang, dan sudah menemaniku sampai orangtuaku datang, aku cukup senang
walaupun tidak jadi ke Sukawati, tetapi tidak ditutupi bahwa aku menyesal,
menyesal karena tidak berpikir panjang sebelum mengambil tindakan.
Setelah cukup lama mengurus surat-surat keterangan, akhirnya aku di izinkan
pulang. Aku merasa bersalah pada orangtuaku karena aku bandel dan telah
berbohong. Meskipun mereka tidak memarahiku, aku tetap saja merasa bersalah.
Rasa bersalah dari seorang anak yang telah membuat orangtuanya panik, membuat
orangtuanya kecewa karena aku berbohong. Maafkan aku...
Suara gemercik hujan yang masih terdengar seakan menertawaiku, atas
kelalaianku. Aku berjanji hari ini, aku tidak akan berbohong lagi kepada
orangtuaku. Ku tak akan menuruti pikiranku, tetapi menuruti kata hatiku. Ku
kembali menelusuri jalan dengan ditemani hujan di hari ini yang sela.
$ SELASAI $





