Senin, 05 Mei 2014




PENGALAMAN PRIBADI

BERMAIN FUTSAL YANG BATAL
Pagi itu di kelas terasa gaduh, karena gurunya tidak mengajar. Kami hanya bercanda-canda saja dengan teman-teman yang lain. Ku duduk dibangku paling belakang bersama Iltizam, Tomy, dan Ilyas sambil gambar-gambar iseng-iseng saja untuk mengisi waktu. Terdengar suara Zaenul yang sedang asyiknya bercanda dengan Pai dan Tantra, mereka menyebut-nyebut namaku segala, dasar!
“Ech, pai! Kita main futsal yukz?? Sekedar refreshing saja, mau??”,  Zaenul bicara sama Pai, tapi dia menolehnya ke arahku. Dasar aneh tuw anak, pasti ada maunya, pikirku. “Iya, iya boleh tuw kayaknya. Ku mau-mau saja”, Pai menjawab sambil menoleh ke  arahku juga.Pikiranku menjadi kacau, tingkah laku mereka aneh. Ku terdiam sejenak, karena heran dengan sikap mereka.“Hey Baedi!”, terdengar suara yang memanggilku, aku terkejut dan langsung terbangun dari lamunanku. “Ech…iya kenapa Nul??”, Tanyaku dengan agak senyum. “Dari pada bengong terus, lebih baik kita main futsal yukz?? Di Jaka Mandala, Mau ikut gak ??”, ajak Zaenul.“Iya boleh, gak ada salahnya juga.“Kita ajak Pai ya?? Hehe…biar ada temenku nantinya”, Zaenul sikapnya aneh, Pai juga tampak senyum-senyum saja. Ku balas saja dengan senyuman juga. “Iya Zaenul, kapan??”
 “Hm…besok saja, sepulang dari sekolah. Ech…ajak Biejee juga ya?? Biar kamu nggak sendiri”, kata Zaenul. Dia langsung kembali ke bangkunya dan mulai bercanda lagi dengan Pai. Ku hanya mengangguk saja, dan mulai beranjak keluar bersama Iltizam.
#Besokkkk nyaaaa#
          Cuaca siang ini tak begitu cerah, sepertinya akan turun hujan.  Langit sedang mendung, aku ragu untuk pergi. Terdengar suara dering dari HP-ku, ternyata dari Zaenul. Dia bilang hari ini jadi berangkatnya, ku langsung mengirim pesan kepada Ucup, karena ku akan main futsal dengan teman-teman. Aku tak sengaja mengajaknya ikut, setelah ku dapat balasan, aku agak kaget. Ternyata Ucup ingin ikut bersama kami, ku merasa senang karena dia ingin ikut.
          Setelah jam menunjukkan pukul 2, aku langsung bergegas mengambil kunci motor. Ech…sialnya! Baru sampai di depan rumah sudah turun hujan gerimis, aku langsung saja tancap gas dan menuju tempat perkumpulan. Hujan semakin deras, ku menunggu sambil berteduh di depan warung bakso. Tak lama, Zaenul datang bersama Pai yang basah kuyup. Ech Baedi! Biejee mana?? Koq gak diajak??”, ucap Zaenul sambil mengeringkan bajunya yang basah. “Hm…tadi hujan, makanya gak bisa jemput Biejee. Jadi ku sendiri saja”. “Owh…palingan mau sama Ucup kan??” kata Zaenul seperti menyindir. “Hah?? Kak Ucup?? Koq??” Pai tampak keheranan, dia seperti agak takut saat Zaenul bilang kalau Ucup mau ikut. “Iya”, jawabku dengan agak malu. Ku tidak mungkin menolak permintaan Ucup untuk ikut. “Owh…jadi kamu harus jemput dulu donk??”, ucap Pai yang masih keheranan. “Ech…nie jas hujannya”, kata Zaenul sambil menyodorkan jas hujan miliknya kepadaku. Zaenul memotong pembicaraanku dengan Pai yang belum ku jawab.  Ku menerima saja, kebetulan  aku tidak bawa jas hujan.
       



“Nul, kamu sama Baedi dulu ya?? Soalnya ku mau mampir dulu sebentar di rumahnya Aldi, untuk ganti celana. Basah nie”, pinta Zaenul. “Hah? Pai?? Ikut gandeng sama Baedi?? Ich…gak mau!” ucap Pai dengan cemberut ke arahku, ku tahu dia tidak akan mau ikut gandeng sama aku, takut kali dia! Dasar Pai aneh. Setelah lama berunding, akhirnya dia mau juga ikut gandeng sama aku. Ku mulai turun dan memakai jas hujan. Syukurnya aku cuma sama dia sampai di rumah Aldi saja, kalo Ucup melihat ini, bisa marah dia.
          Semakin jauh, hujannya semakin deras. Ku kasihan juga sama Pai, dia sepertinya menggigil kedinginan di belakangku. Tapi ku tak berani berkata apa-apa, ku hanya menjaganya dengan kata hatiku. Tak lama, hujan berhenti. Tepat di depan rumah Aldi, Pai turun dari motorku, kemudian dia sama Zaenul. Di sana kami berpisah, karena ku harus menjemput Ucup terlebih dahulu. Mereka pergi duluan dan kami berencana nanti ketemu di pasar Sukawati. Pai memberi lambaian tangan kepadaku, aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang putih pucat itu.         
Sepanjang perjalanan, aku merasa tidak tenang. Dalam hatiku merasa takut, karena aku baru pertama kali menjemput Ucup. Ku tidak hafal banyak jalan ke rumahnya. HP didalam saku celanaku bergetar, panggilan, mungkin dari Ucup. Kudiamkan saja, aku lupa meng-sms dia sebelum berangkat., seperti yang dia pesankan padaku. Hujan masih terus saja berjatuhan membasahiku yang hanya berlindungkan jas hujan kecil milik Zaenul. Pikiranku gelisah, ada pikiran terlintas untuk kembali saja dan langsung ke jaka mandala tanpa menjemput Ucup.  Tapi aku sudah berjanji, dan aku bukan orang yang suka ingkar janji. Aku terus menyusuri jalan,  terus memacu motorku dengan kecepatan sedang.
Perasaanku masih tidak enak, saat menyusuri jalan itu, dan benar saja , kulihat ada banyak  orang berkerumun dan juga polisi! Ku kaget melihat ada polisi, jangan-jangan ada tilang! Terlambat untuk berbalik, dan aku pun di stop oleh polisi. Ku meraba perlengkapanku, STNK ku tak bawa dan SIM pun tak punya. Terpaksa ku hanya bisa pasrah saja, ini mungkin nasibku. Kulihat HP-ku, panggilan dari Ucup, kukatakan padanya aku kena tilang, dia langsung mengatakan dia akan menyusulku, sekitar sepuluh menit Ucup pun datang, tampak seperti orang yang sehabis berlari, keringat diwajahnya tak bisa disembunyikan. Ucup berdiri diseberang jalan, mendekati polisi yang berdiri disana, mereka bercakap-cakap sebentar, kurasa dia berusaha agar aku diberi keringanan, seperti yang kulakukan tadi, tetap saja tidak berhasil. Saat itu aku panik dan terpaksa harus menelepon Bapakku. Ucup duduk disebelahku, bersama menunggu orangtuaku datang, mungkin Ucup merasakan hal seperti aku, takut. ”Maaf.”, kata Ucup saat aku menatapnya. ”Maaf karena aku membiarkanmu kemari, seharusnya aku tidak mau ikut, aku kira kamu tidak akan benar-benar kemari, aku bodoh sekali.”. Aku mencoba tersenyum, maaf tak ada artinya lagi, sudah terlanjur.
Motorku dibawa ke Polda yang letaknya cukup jauh dari tempat penilangan tadi. Aku dan Ucup berjalan ke Polda, tak banyak yang kami bicarakan, Ucup hanya menunduk sambil membawa helmku. Kami sampai diPolda, tetapi orangtuaku belum datang. Kami menunggu beberapa lama, dan akhirnya orangtuaku datang, Ucup pun pergi menjauh sambil memberikan senyuman padaku. Dia buru-buru pergi agar tidak menjadi pertanyaan orangtuaku nanti.
Aku merasa takut, karena aku tadi minta izin untuk ke pasar Sukawati bersama teman-teman, tapi aku malah kena tilang di jalan yang tidak menuju ke pasar  Sukawati. Aku agak gemetar, tetapi Bapak hanya tersenyum kepadaku. Seketika pikiranku tenang, rasa takut dan gelisah itu mulai hilang terhapus dengan senyuman. Lama ku di Polda itu, hujan tak juga kunjung reda. Kulihat HP ku, Ucup meng-sms, dia menanyakan keadaanku. Sejujurnya, aku marah padanya, karena dia aku kemari, dan entah mengapa aku bersedia. Marah pun tak ada gunanya, lagipula dia tadi sudah mau menyusulku ke tempatku ditilang, dan sudah menemaniku sampai orangtuaku datang, aku cukup senang walaupun tidak jadi ke Sukawati, tetapi tidak ditutupi bahwa aku menyesal, menyesal karena tidak berpikir panjang sebelum mengambil tindakan.
Setelah cukup lama mengurus surat-surat keterangan, akhirnya aku di izinkan pulang. Aku merasa bersalah pada orangtuaku karena aku bandel dan telah berbohong. Meskipun mereka tidak memarahiku, aku tetap saja merasa bersalah. Rasa bersalah dari seorang anak yang telah membuat orangtuanya panik, membuat orangtuanya kecewa karena aku berbohong. Maafkan aku...
Suara gemercik hujan yang masih terdengar seakan menertawaiku, atas kelalaianku. Aku berjanji hari ini, aku tidak akan berbohong lagi kepada orangtuaku. Ku tak akan menuruti pikiranku, tetapi menuruti kata hatiku. Ku kembali menelusuri jalan dengan ditemani hujan di hari ini yang sela.


$ SELASAI $

Rabu, 16 April 2014


BATU MENANGIS

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa

ASAL MULA TELAGA BIRU
Asal Mula Telaga Biru
Dibelahan bumi Halmahera Utara tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumah atau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuat fenomena ini terjadi?

Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.
Asal Mula Terjadinya Candi Prambanan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0m2vfa94FjmKCMgb9aTEe3E4EosMQ77hWO2WJhz5c2cD40pxw6WgUQKvZKsZr5P3jzdN3xs809_UhYAdk4Q8hAitj8A-Qf6IelcKVCarBrTNzQ7KGBhzXvEUeSRz5MrDjvssXny8pUmo/s400/PrambananStuckinCustoms.jpg
Candi Prambanan (Loro Jonggrang)

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteram dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso. 


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWTL3cl2jOye0xOOCtV9FUVcM3S36ffgzgP8TAkF_FApqLXR2fYvLf4f58q9zMMmc6oe8wi4kmXsa1Dp8KgIArXcjgjFWC4mdTN1tFcqCFl1EuZyqy6yOav3bSURYOJI1WmZQOGHBNePo/s320/loro+jonggrang.gif
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam.

"Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya.

Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.

Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada
Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEislQNg6eansekGU1If2DH26-dom1tGs2HIpqX3s_j9OZS4kWIeSHWuFSC8rM0sHfWQ5W0EXWP_Rwc104p4myvVhZCIIQZ43yM-8purpJS9QlerpwSAx-zblplJNoswSNwjXfpgMiwUNe0/s320/loro+jonggrang.gif
"Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar.

Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.
"Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya.

"Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". 

"Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam."

Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"

Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZVtXa7hXmRy90crg_9K5y4Q2CtTAAl-GqY5-tpS7-Eur66Fkv6Eyg88pkh_UV_Tt6psWlVwPZ9i_JrS2YUUN26JwJdU3n9Edkv3aHaupLIcj8K8zK0orptU1ALYE5SreKDVpy7doF8fk/s320/loro+jonggrang.gif
Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin.

"Wah, bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami.

"Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung.

Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi__7Iejj82fhq8gEEV92jxp63yuenmcxJscFx3EXc2S4wowbPAz7H0SMD33fZI_v9W7qCpme5bJhyeszQJWXWdl52_hzesqWnyLCFLBxVAVt7tsCq-_Q4vu5dq1hL06pDGoETBM1ml72Q/s320/loro+jonggrang.gif
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.