Senin, 05 Mei 2014




PENGALAMAN PRIBADI

BERMAIN FUTSAL YANG BATAL
Pagi itu di kelas terasa gaduh, karena gurunya tidak mengajar. Kami hanya bercanda-canda saja dengan teman-teman yang lain. Ku duduk dibangku paling belakang bersama Iltizam, Tomy, dan Ilyas sambil gambar-gambar iseng-iseng saja untuk mengisi waktu. Terdengar suara Zaenul yang sedang asyiknya bercanda dengan Pai dan Tantra, mereka menyebut-nyebut namaku segala, dasar!
“Ech, pai! Kita main futsal yukz?? Sekedar refreshing saja, mau??”,  Zaenul bicara sama Pai, tapi dia menolehnya ke arahku. Dasar aneh tuw anak, pasti ada maunya, pikirku. “Iya, iya boleh tuw kayaknya. Ku mau-mau saja”, Pai menjawab sambil menoleh ke  arahku juga.Pikiranku menjadi kacau, tingkah laku mereka aneh. Ku terdiam sejenak, karena heran dengan sikap mereka.“Hey Baedi!”, terdengar suara yang memanggilku, aku terkejut dan langsung terbangun dari lamunanku. “Ech…iya kenapa Nul??”, Tanyaku dengan agak senyum. “Dari pada bengong terus, lebih baik kita main futsal yukz?? Di Jaka Mandala, Mau ikut gak ??”, ajak Zaenul.“Iya boleh, gak ada salahnya juga.“Kita ajak Pai ya?? Hehe…biar ada temenku nantinya”, Zaenul sikapnya aneh, Pai juga tampak senyum-senyum saja. Ku balas saja dengan senyuman juga. “Iya Zaenul, kapan??”
 “Hm…besok saja, sepulang dari sekolah. Ech…ajak Biejee juga ya?? Biar kamu nggak sendiri”, kata Zaenul. Dia langsung kembali ke bangkunya dan mulai bercanda lagi dengan Pai. Ku hanya mengangguk saja, dan mulai beranjak keluar bersama Iltizam.
#Besokkkk nyaaaa#
          Cuaca siang ini tak begitu cerah, sepertinya akan turun hujan.  Langit sedang mendung, aku ragu untuk pergi. Terdengar suara dering dari HP-ku, ternyata dari Zaenul. Dia bilang hari ini jadi berangkatnya, ku langsung mengirim pesan kepada Ucup, karena ku akan main futsal dengan teman-teman. Aku tak sengaja mengajaknya ikut, setelah ku dapat balasan, aku agak kaget. Ternyata Ucup ingin ikut bersama kami, ku merasa senang karena dia ingin ikut.
          Setelah jam menunjukkan pukul 2, aku langsung bergegas mengambil kunci motor. Ech…sialnya! Baru sampai di depan rumah sudah turun hujan gerimis, aku langsung saja tancap gas dan menuju tempat perkumpulan. Hujan semakin deras, ku menunggu sambil berteduh di depan warung bakso. Tak lama, Zaenul datang bersama Pai yang basah kuyup. Ech Baedi! Biejee mana?? Koq gak diajak??”, ucap Zaenul sambil mengeringkan bajunya yang basah. “Hm…tadi hujan, makanya gak bisa jemput Biejee. Jadi ku sendiri saja”. “Owh…palingan mau sama Ucup kan??” kata Zaenul seperti menyindir. “Hah?? Kak Ucup?? Koq??” Pai tampak keheranan, dia seperti agak takut saat Zaenul bilang kalau Ucup mau ikut. “Iya”, jawabku dengan agak malu. Ku tidak mungkin menolak permintaan Ucup untuk ikut. “Owh…jadi kamu harus jemput dulu donk??”, ucap Pai yang masih keheranan. “Ech…nie jas hujannya”, kata Zaenul sambil menyodorkan jas hujan miliknya kepadaku. Zaenul memotong pembicaraanku dengan Pai yang belum ku jawab.  Ku menerima saja, kebetulan  aku tidak bawa jas hujan.
       



“Nul, kamu sama Baedi dulu ya?? Soalnya ku mau mampir dulu sebentar di rumahnya Aldi, untuk ganti celana. Basah nie”, pinta Zaenul. “Hah? Pai?? Ikut gandeng sama Baedi?? Ich…gak mau!” ucap Pai dengan cemberut ke arahku, ku tahu dia tidak akan mau ikut gandeng sama aku, takut kali dia! Dasar Pai aneh. Setelah lama berunding, akhirnya dia mau juga ikut gandeng sama aku. Ku mulai turun dan memakai jas hujan. Syukurnya aku cuma sama dia sampai di rumah Aldi saja, kalo Ucup melihat ini, bisa marah dia.
          Semakin jauh, hujannya semakin deras. Ku kasihan juga sama Pai, dia sepertinya menggigil kedinginan di belakangku. Tapi ku tak berani berkata apa-apa, ku hanya menjaganya dengan kata hatiku. Tak lama, hujan berhenti. Tepat di depan rumah Aldi, Pai turun dari motorku, kemudian dia sama Zaenul. Di sana kami berpisah, karena ku harus menjemput Ucup terlebih dahulu. Mereka pergi duluan dan kami berencana nanti ketemu di pasar Sukawati. Pai memberi lambaian tangan kepadaku, aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang putih pucat itu.         
Sepanjang perjalanan, aku merasa tidak tenang. Dalam hatiku merasa takut, karena aku baru pertama kali menjemput Ucup. Ku tidak hafal banyak jalan ke rumahnya. HP didalam saku celanaku bergetar, panggilan, mungkin dari Ucup. Kudiamkan saja, aku lupa meng-sms dia sebelum berangkat., seperti yang dia pesankan padaku. Hujan masih terus saja berjatuhan membasahiku yang hanya berlindungkan jas hujan kecil milik Zaenul. Pikiranku gelisah, ada pikiran terlintas untuk kembali saja dan langsung ke jaka mandala tanpa menjemput Ucup.  Tapi aku sudah berjanji, dan aku bukan orang yang suka ingkar janji. Aku terus menyusuri jalan,  terus memacu motorku dengan kecepatan sedang.
Perasaanku masih tidak enak, saat menyusuri jalan itu, dan benar saja , kulihat ada banyak  orang berkerumun dan juga polisi! Ku kaget melihat ada polisi, jangan-jangan ada tilang! Terlambat untuk berbalik, dan aku pun di stop oleh polisi. Ku meraba perlengkapanku, STNK ku tak bawa dan SIM pun tak punya. Terpaksa ku hanya bisa pasrah saja, ini mungkin nasibku. Kulihat HP-ku, panggilan dari Ucup, kukatakan padanya aku kena tilang, dia langsung mengatakan dia akan menyusulku, sekitar sepuluh menit Ucup pun datang, tampak seperti orang yang sehabis berlari, keringat diwajahnya tak bisa disembunyikan. Ucup berdiri diseberang jalan, mendekati polisi yang berdiri disana, mereka bercakap-cakap sebentar, kurasa dia berusaha agar aku diberi keringanan, seperti yang kulakukan tadi, tetap saja tidak berhasil. Saat itu aku panik dan terpaksa harus menelepon Bapakku. Ucup duduk disebelahku, bersama menunggu orangtuaku datang, mungkin Ucup merasakan hal seperti aku, takut. ”Maaf.”, kata Ucup saat aku menatapnya. ”Maaf karena aku membiarkanmu kemari, seharusnya aku tidak mau ikut, aku kira kamu tidak akan benar-benar kemari, aku bodoh sekali.”. Aku mencoba tersenyum, maaf tak ada artinya lagi, sudah terlanjur.
Motorku dibawa ke Polda yang letaknya cukup jauh dari tempat penilangan tadi. Aku dan Ucup berjalan ke Polda, tak banyak yang kami bicarakan, Ucup hanya menunduk sambil membawa helmku. Kami sampai diPolda, tetapi orangtuaku belum datang. Kami menunggu beberapa lama, dan akhirnya orangtuaku datang, Ucup pun pergi menjauh sambil memberikan senyuman padaku. Dia buru-buru pergi agar tidak menjadi pertanyaan orangtuaku nanti.
Aku merasa takut, karena aku tadi minta izin untuk ke pasar Sukawati bersama teman-teman, tapi aku malah kena tilang di jalan yang tidak menuju ke pasar  Sukawati. Aku agak gemetar, tetapi Bapak hanya tersenyum kepadaku. Seketika pikiranku tenang, rasa takut dan gelisah itu mulai hilang terhapus dengan senyuman. Lama ku di Polda itu, hujan tak juga kunjung reda. Kulihat HP ku, Ucup meng-sms, dia menanyakan keadaanku. Sejujurnya, aku marah padanya, karena dia aku kemari, dan entah mengapa aku bersedia. Marah pun tak ada gunanya, lagipula dia tadi sudah mau menyusulku ke tempatku ditilang, dan sudah menemaniku sampai orangtuaku datang, aku cukup senang walaupun tidak jadi ke Sukawati, tetapi tidak ditutupi bahwa aku menyesal, menyesal karena tidak berpikir panjang sebelum mengambil tindakan.
Setelah cukup lama mengurus surat-surat keterangan, akhirnya aku di izinkan pulang. Aku merasa bersalah pada orangtuaku karena aku bandel dan telah berbohong. Meskipun mereka tidak memarahiku, aku tetap saja merasa bersalah. Rasa bersalah dari seorang anak yang telah membuat orangtuanya panik, membuat orangtuanya kecewa karena aku berbohong. Maafkan aku...
Suara gemercik hujan yang masih terdengar seakan menertawaiku, atas kelalaianku. Aku berjanji hari ini, aku tidak akan berbohong lagi kepada orangtuaku. Ku tak akan menuruti pikiranku, tetapi menuruti kata hatiku. Ku kembali menelusuri jalan dengan ditemani hujan di hari ini yang sela.


$ SELASAI $